Anakmuda!

             

[saran judul di Story IG @reza_maulana]

ilustrasi lembah, sumber gambar: pixbay

Bertahanlah di atas kebenaran, Istiqamahlah sampai datang kematian, 

jangan dulu merasa telah menang sebelum Ujian sesungguhnya berakhir,

Masih ingat dengan kisah 3 orang bani israil (yang berpenyakit kulit, botak dan buta) yang diuji? 

berikut kisahnya..

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ ثَلاَثَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى،

فَأَرَادَ اللهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ، فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا،

“Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita penyakit kulit[1], punya penyakit kebotakan (sebagian rambut kepalanya botak, -pen) dan orang buta. Kemudian Allah Ta’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

فَأَتَى اْلأَبْرَصَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟،

قَالَ: لَوْنٌ حَسَنٌ، وَجِلْدٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسَ بِهِ،

قَالَ: فَمَسَحَهُ، فَذَهَبْ عَنْهُ قَذَرُهُ، فَأُعْطِيَ لَوْنًا حَسَنًا وَجِلْدًا حَسَنًا،

قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

قَالَ: اْلإِبِلُ أَوِ الْبَقَرُ – شّكٌّ إِسْحَاقُ – فَأُعْطِيَ نَاقَة  عُشْرَاءَ،

فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kulit dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah.  Malaikat itu bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Ia menjawab, “Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan ia pun didoakan, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”

قَالَ: فَأَتَى اْلأَقْرَعَ، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

قَالَ: شَعْرٌ حَسَنٌ، وَيَذْهَبُ عَنِّي الَّذِي قَدْ قَذِرَنِي النَّاسُ بِهِ،

فَمَسَحَهُ فَذَهَبَ عَنْهُ قَذَرُهُ، وَأُعْطِيَ شَعْرًا حَسَنًا،

فَقَالَ: أَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟،

قَالَ: الْبَقَرُ أَوِ اْلإِبِلُ، فَأُعْطِيَ بَقَرَةً حَامِلاً، قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ فِيْهَا.

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang yang punya penyakit kebotakan, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat tadi bertanya lagi kepadanya, “Harta apakah yang kamu senangi?” Ia menjawab, “Sapi atau unta.” Maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting dan didoakan, “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

فَأَتَى اْلأَعْمَى، فَقَالَ: أَيُّ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟،

قَالَ: أَنْ يُرِدِ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي فَأَبْصَرَ بِهِ النَّاسَ،

فَمَسَحَهُ، فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ بَصَرَهُ، قَالَ: فَأَيُّ الْمَالِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟،

قَالَ: الْغَنَمَ، فَأُعْطِيَ شَاةً وَالِدًا.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya, “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Ia menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Ia menjawab: “Kambing.” Maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

فَأُنْتِجَ هَذَانِ وَوَلَّدَ هَذَا، فَكَانَ لِهَذَا وَادٍ مِنَ اْلإِبِلِ،

وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْبَقَر، وَلِهَذَا وَادٍ مِنَ الْغَنَمِ.

Lalu berkembangbiaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata selanjutnya,

ثُمَّ إِنَّهُ أَتَى اْلأَبْرَصَ فِي صُوْرَتِهِ وَهَيْئَتِهِ،

قَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالُ فِي سَفَرِي،

فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ،

أَسْأَلُكَ بِالَّذِي أَعْطَاكَ اللَّوْنَ الْحُسْنَ وَالْجِلْدَ الْحُسْنَ وَالْمَالَ،

بَعِيْرًا أَتَبَلَّغُ بِهِ فِي سَفَرِي،

فَقَالَ: الْحُقُوْقُ كَثِيْرَةٌ،

فَقَالَ لَهُ: كَأَنِّي أَعْرَفْكَ! أَلَمْ تَكُنْ أَبْرَصَ يَقْذَرُكَ النَّاسُ، فَقِيْرًا فَأَعْطَاكَ اللهُ الْمَالَ؟،

فَقَالَ: إِنَّمَا وَرَثْتُ هَذَا الْمَالَ كَابِرًا عَنْ كَابِرٍ،

فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كاَذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ.

“Kemudian, datanglah Malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit kulit, dengan menyerupai dirinya (yakni di saat ia masih dalam keadaan berpenyakit kulit, -pen), dan berkata kepadanya, “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku.” Tetapi dijawab, “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak.” Malaikat tadi berkata kepadanya, “Sepertinya aku pernah mengenal Anda, bukankah Anda ini dulu orang yang menderita penyakit kulit, yang orang-orang pun jijik melihat anda, lagi pula anda miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan?” Dia malah menjawab, “Harta kekayaan ini aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka  malaikat tadi berkata kepadanya, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.”

قَالَ: وَأَتَى اْلأَقْرَعَ فِي صُوْرَتِهِ،

فَقَالَ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَ لِهَذَا، وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَ مَا رَدَّ عَلَيْهِ هَذَا،

فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا فَصَيَّرَكَ اللهُ إِلَى مَا كُنْتَ.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berpenyakit kebotakan, dengan menyerupai dirinya (di saat masih berpenyakit itu), dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakit kulit, serta ditolaknya sebagaimana ia telah ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata, “Jika Anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan Anda seperti keadaan semula.”

قَالَ: وَأَتَى اْلأَعْمَى فِي صُوْرَتِهِ،

فَقَالَ: رَجُلٌ مِسْكِيْنٌ وَابْنُ سَبِيْلٍ قَدِ انْقَطَعَتْ بِيَ الْحِبَالِ فِي سَفَرِي،

فَلاَ بَلاَغَ لِيَ الْيَوْمَ إِلاَّ بِاللهِ ثُمَّ بِكَ،

أَسْأَلُكَ بِالَّذِي رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ شَاةً أَتَبَلَّغُ بِهَا فِي سَفَرِي،

فَقَالَ: قَدْ كُنْتُ أَعْمَى فَرَدَّ اللهُ إِلَيَّ بَصَرِي، فَخَذَ مَا شِئْتَ، وَدَعْ مَا شِئْتَ،

فَوَاللهِ لاَ أَجْهَدُكَ الْيَوْمَ بِشَيْءٍ أَخَذْتَهُ للهُ،

فَقَالَ: أَمْسِكْ مَالَكَ، فَإِنَّمَا ابْتُلِيْتُمْ،

فَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْكَ وَسَخَطُ عَلَى صَاحِبَيْكَ

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu (di saat ia masih buta), dan berkata kepadanya, “Aku adalah orang yang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” Maka orang itu menjawab, “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang Anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.” Maka malaikat tadi berkata, “Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanya diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda.” (HR. Bukhari no. 3464 dan Muslim no. 2964).

===========

Coba perhatikan ujian mereka selain kesembuhan, mereka diberi masing2 satu lembah hewan ternak, ada yang dapat unta, ada yang dapat sapi, dan ada yang Allah karuniai rizki hewan ternak berupa kambing,

Tahukan yah apa itu lembah?

Lembah adalah wilayah luas antar pegunungan, luasnya bisa mencapai ribuan kilometer, berarti berhektar-hektar luas lahannya, bisa dibayangkan berapa banyak hewan ternak yang Allah Subhanahu wata’ala karuniakan kepada mereka yang mereka diuji dengannya?

Coba cermati, kira-kira proses menghasilkan hewan ternak yang selembah, dan berhektar-hektar itu, yang jumlahnya bisa dibayangkan banyaknya, prosesnya butuh waktu berapa lama? Tentu butuh waktu yang tidak singkat, prosesnya lama.

dalam proses yang panjang itu, proses menuju menghasilkan hewan ternak yang banyak itu tentu mereka bertiga menghadapi ujian-ujian kecil di dalamnya, yakan pasti ada proses-prose kauni, merawat, mencari pakan ternak, merekrut pengembala, menghadapi tantangan marketing dan seterusnya., ada proses bisnis yang panjang, tidak saklek langsung tiba-tiba banyak!?

Tapi bukan ujian itu yang jadi point of view,

ujian sesungguhnya barulah ketika di akhir, 

Perhatikan ketika malaikat datang kepada ketiga orang tadi dalam wujud pengemis, malaikat barulah datang di saat hewan ternak mereka sudah selembah, ketika mereka sudah sukses dalam bisnis ternaknya, ujian sesungguhnya barulah datang.

Belajarlah dari kisah ini bahwa jangan pernah sekali-kali merasa aman dari kesuksesan-kesuksesan kecil, dari amalan-amalan, atau ibadah-ibadah yang telah kita kerjakan, sebab belum tentu itulah puncaknya

Mungkin ada yang merasa sudah berhasil berhijrah sehingga merasa kalau ujian sudah tidak ada lagi

Atau 

Mungkin ada yang telah lama berhijrah dan telah menghadapi banyak suka dan duka dalam proses hijrah, kemudian berhasil mengalahkan halangan dan rintangan menuju kepada Allah, sehingga merasa kalau dia sudah menang, sudah merasa senior dan malas datang lagi di kajian-kajian tauhid misalnya..

Atau ada di kalangan teman-teman sekalian pengurus dakwah, panitia kajian, yang merasa telah banyak berkontribusi dalam dakwah atau dauroh, merasa telah senior, dan sudah banyak belajar, kemudian merasa diri sudah lulus ujian!?, 

Atau bahkan para da’i, yang merasa inilah puncaknya, inilah ending ujiannya!?.

Ketahuilah siapa pun kita, selama masih hidup, ujian belumlah berakhir, jangan pernah berfikir kalau kemenangan telah dicapai,  jangan puas dulu atas amalan-amalan akhirat yang kita kerjakan, selalulah merasa kurang dan kurang.

Merasalah kalau kita belum berbuat apa-apa untuk Agama Allah, untuk islam, untuk ummat..

Astagfirullah, ampuni dosa-dosa kami yaa Allah, 

اللهم ثبت قلوبنا علي طاعتك.

Untuk diri saya terutama dan pembaca, Perbanyak istigfar dan selalu mohonlah kepada Allah diberi keistiqomahan, ditetapkan hatinya di dalam agama, dan ketaatan kepada Nya,

saya ingatkan akan hadits Nabi 

وَإِنَّمَاالأَعْمَالُبِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

kemudian ingatlah hadits Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَعَلَيْكُمْأَنْلاَتُعْجَبُوابِأَحَدٍحَتَّىتَنْظُرُوابِمَيُخْتَمُلَهُفَإِنَّالْعَامِلَيَعْمَلُزَمَاناًمِنْعُمْرِهِأَوْبُرْهَةًمِنْدَهْرِهِبِعَمَلٍصَالِحٍلَوْمَاتَعَلَيْهِدَخَلَالْجَنَّةَثُمَّيَتَحَوَّلُفَيَعْمَلُعَمَلاًسَيِّئاًوَإِنَّالْعَبْدَلِيَعْمَلُالْبُرْهَةَمِنْدَهْرِهِبِعَمَلٍسَيِّئٍلَوْمَاتَعَلَيْهِدَخَلَالنَّارَثُمَّيَتَحَوَّلُفَيَعْمَلُعَمَلاًصَالِحاًوَإِذَاأَرَادَاللَّهُبِعَبْدٍخَيْراًاسْتَعْمَلَهُقَبْلَمَوْتِهِ ». قَالُوايَارَسُولَاللَّهِوَكَيْفَيَسْتَعْمِلُهُقَالَ « يُوَفِّقُهُلِعَمَلٍصَالِحٍثُمَّيَقْبِضُهُعَلَيْهِ »

Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek. Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya,
“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari – Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334, hal yang sama dikatakan oleh Syaikh Al-Albani)

dalam kitab Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 33, dinukil dari Al-Yaumul Akhir I, karya Dr. Umar bin Sulaiman Al-Asyqar, Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Para ulama telah menceritakan bahwa setan mendatangi manusia pada detik-detik ajalnya, dalam bentuk ibunya atau bapaknya, teman dekat atau lainnya yang sangat ia nantikan bimbingannya. Kemudian setan dalam rupa semacam ini akan mengajaknya untuk mengikuti agama Yahudi atau Nasrani atau pemikiran menyimpang lainnya. Dalam kondisi semacam ini, ada beberapa orang yang tersesat, kecuali mereka yang mendapat taufik dari Allah.” 

Diceritakan oleh Abdullah putra Imam Ahmad,
Aku menghadiri proses meninggalnya bapakku, Ahmad. Aku membawa selembar kain untuk mengikat jenggot beliau. Beliau kadang pingsan dan sadar lagi. Lalu beliau berisyarat dengan tangannya, sambil berkata, “Tidak, menjauh…. Tidak, menjauh…” beliau lakukan hal itu berulang kali. Maka aku tanyakan ke beliau, “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? Beliau menjawab,

إن الشيطان قائم بحذائي عاض على أنامله يقول: يا أحمد فتني وأنا أقول لا بعد لا بعد

“Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggingit jarinya, dia mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu (tidak sanggup menyesatkanmu).  Aku katakan: “Tidak, menjauhlah…. Tidak, menjauhlah….” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 186)

Maksud cerita ini, syaithon hendak menyesatkan Imam Ahmad dengan cara memuji Imam Ahmad. Syaithoh mengaku menyerah di hadapan Imam Ahmad, agar beliau menjadi ujub terhadap diri sendiri dan bangga terhadap kehebatannya. Tapi beliau sadar, ini adalah tipuan. Beliau tolak dengan tegas: “Tidak, menjauhlah..tidak, menjauhlah”

Imam Al-Qurthubi melanjutkan ceritanya:
“Saya mendengar guru kami, Abu Abbas Ahmad bin Umar di daerah perbatasan Iskandariyah bercerita: ‘Saya menjenguk saudara guruku, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad di daerah Kordoba. Ketika itu beliau sedang sekarat. Ada yang mentalqin beliau: ucapakan: Laa ilaaha illallaah

Tapi orang ini malah menjawab: Tidak… Tidak… Setelah beliau sadar, beliau bercerita: ‘Ada dua setan mendatangiku, satu di sebelah kanan dan satunya di sebelah kiri. Yang satu menyarankan: Matilah dengan memeluk Yahudi, karena itu adalah agama terbaik. Satunya berkata: Matilah memeluk Nasrani, karena itu adalah agama terbaik’. Lalu aku jawab: Tidak… Tidak…” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 187)

inilah fitnah mahya wal mamat (ujian hidup dan mati). Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari ujian yang mengerikan ini. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika tasyahud akhir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, beliau membaca,

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka, dari adzab kubur, dari ujian hidup dan mati, dan dari keburukan ujian masih dajjal.” (HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya)
Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan khusnul khotimah..

Semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuni dosa-dosa penulis dan kita semua, memberi taufiq kepada semuanya, dan menetapkan hati kita di atas agamaNya.

=====================

Eits jangan lupa tinggalkan jejak ya..

Leave a Comment

*

code