Anakmuda!

             

Esensi ?

cari

cari

Esensi?

Pernah tidak dalam sebuah kesendirian kita merasa kosong dari jawaban hidup?, kita tidak tahu apa yang kita cari,

dikarenakan saya hidup di jaman newtonism seperti sekarang ini maka awalnya saya menganggap jawabannya adalah uang dan materi, kita butuh uang, benda, materi, atau kita butuh predikat dalam hidup..

Lalu kemudian dalam bisnis, banyak sekali saya melihat orang-orang yang gampang mencari uang dan meraup keuntungan yang sangat banyak dalam waktu sekejap saja tanpa usaha berarti…aneh, sehingga saya menganggap uang BUKAN lah hal yang “berharga” yang pantas harus saya kejar siang dan malam, karena sesuatu yang berharga itu pasti susah dicari, butuh pengorbanan yang banyak, YAKAN?.

Saya kemudian menganggap lagi bahwa kehormatan lah mungkin yang pantas kita kejar  karena saya melihat orang-orang kaya tadi ada yang rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli kehormatan dan predikat, menjadi anggota dewan ataupun pejabat, tapi aneh lagi, mereka sama saja di mata saya, entah kenapa saya menganggap mereka sama saja dengan orang biasa yang lain, tidak ada yang unik. Kalau begitu jabatan bukanlah hal berharga yang harus saya minta-mintai dengan mati-matian, karena hal berharga itu pasti unik dan spesial, seperti saya membeli baju di butik dengan harga separuh gaji sebulan saya, saya rela membelinya karena tidak diproduksi banyak Cuma satu, maka sayapun menganggap baju saya itu mahal dan berharga..

Sampai saya mengira kalau cintalah yang pantas kita kejar, cinta makhluk maksud saya, cinta kepada pasangan hidup mungkin yang membuat kita tenang, karena sy melihat orang2 kaya dan terhormat mati-matian sampai mungkin sesekali membuang banyak materinya dan menanggalkan kehormatannya demi mengejar cintanya, namun semakin tidak mungkin, krn dari dulu banyak kita saksikan pria-pria terhormat mati-matian mengejar wanita sementara wanita kebanyakan malah lebih memilih lelaki agak brandalan lagi alay, agak preman dan kampungan, ini berdasarkan riset dan kenyataan kebanyakan hehe. Sehingga kalau dipikir-pikir wanita akan cendong memilih sesuatu yang sesuai derajat dirinya, maka wanita yg mencintai pria alay dan brandalan, mau cantik dan keren bagaimana pun dari lubuk mindsetnya yang paling dalam wanita tersebut tetaplah alay dan kampungan, sehingga banyak dari wanita tidak pantas dikejar, krn mereka menjatuhkan derajatnya sendiri atas nama cinta.. *ecie,
selain itu kata teman fesbuk: “Seorang pria ketika ia mengenal pertama kali wanita yang dicintainya, ia sulit tidur, karena ia sulit melupakan setiap kata yang pernah terucap dari wanita yang dicintainya tersebut..

Tapi, setelah ia berhasil menjadikan wanita tersebut sebagai istrinya, maka ia akan tertidur sebelum istrinya menyelesaikan perkataannya”,
sehingga pada titik jenuh tertentu sesuatu akan memudar, tidak terkecuali cinta..
maka unsur ke-3 (cinta) terlalu rapuh untuk dikejar.

kalau begitu kita belum menemukan apa yang harus kita cari, kita masih harus mencari..

esensi ?

Sadarkah kita kalau dari hal di atas sebenarnya kita sedang membicarakan dan mempertanyakan esensi?

Memang sudah banyak yg sadar untuk mempertanyakan esensi, ada yg hampir dapat,ada yg mutar-mutar tidak dapat-dapat, ada yg anggap dirinya sdh beresensi tapi sebenarnya kosong dari esensi. Well skarang mungkin ada yg bertanya apakah esensi adalah jatidiri? Bukan ya, kadang ada yg sdh menemukan jatidirinya tapi jatidirinya sendiri kosong dari esensi, jadi esensi berbeda dengan jatidiri..

Sadar atau tdk, Misi hidup kita kadang kosong dr esensi, oke kalau ada yg anggap dirinya tdk kosong dari esensi hidup, biasanya mereka anggap mereka punya visi dan misi yg jelas dlm hidup katanya,

“sy mau menjadi orang yg bahagia dunia dan akhirat” tapi setelah mengalami sebuah kegagalan, Tidak lulus misalnya, gagal mendapatkan pekerjaan, ini dan itu, trus dia kecewa, down, mengimprovisasi  perjuangan dan kegagalannya dengan kata2 lebay, ini bukan esensi, seolah2 perjuangan utk mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat itu cuma itu saja: lulus, mendapatkan pekerjaan, mendapatkan materi, predikat, dan cinta.

kalau cuma karena itu seseorang down maka bolehlah mungkin kalau kita katakan bahwa esensi anda embel-embelnya adalah duit, kehormatan, wanita dll, bukan kebahagiaan. Harusnya anda yang pengen bahagia, walaupun keadaannya gagal, sulit bagaimanapun kalau perasaan anda tetap tenang dan bahagia maka itulah bahagia, dan yg terpenting itulah esensi.

Atau bisa jadi ada yg bilang kalau misi hidupnya adalah “pokoknya sy mau jd orang yg bermanfaat bagi banyak orang” trus setelah mendapatkan sebuah kegagalan anda down anda menganggap esensi hidup anda gagal anda capai, padahal cuma satu atau beberapa keadaan sj harusnya tdk boleh menghentikan langkah anda untuk menjadi yg bermanfaat bagi orang banyak, satu pintu tertutup pasti ada banyak pintu lain yg terbuka.

Jangan kosongkan diri anda dari esensi tetaplah fokus pada tujuan inti, jangan mempersempit ruang kebahagiaan dan tujuan hidup anda Cuma dalam 3 unsur(materi, predikat,cinta) tadi.

lalu apa yang pantas kita kejar?

kalau begitu esensi yang pantas kita kejar adalah apa yg susah didapatkan, didapatkan harus dengan pengorbanan yang besar sesuai hasil yg dituai nantinya, dan tentunya tidak semua orang mampu mendapatkannya karena keuatamaan itu sangat istimewah untuk orang-orang tertentu.

======

Dan akhirnya pada titik ini, saya pun berhenti mempertanyakan esensi ketika sampai di ayat:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz –Dzariyat: 56 )

mungkin seribu kali mengikuti seminar-seminar motivasi dan kesadaran diri itu setara dengan sekali ikut balajar aqidah yang benar..

Sehingga Saya melihat orang2 tidak akan berhenti mempertanyakan esensi sampai mereka kembali kepada agama..

sekali lagi kita masih akan kosong dari esensi sampai kita sadar dan mengerti bahwa tujuan hidup kita adalah beribadah dan mentauhidkan Allah.

=====================

Eits jangan lupa tinggalkan jejak ya..

Leave a Comment

*

code