Anakmuda!

             

Salah satu Sudut Kedetailan Pelajaran Kisah Nabi Yusuf


Wahai Orang yang Menzholimi Segeralah Meminta Maaf!. dan wahai yang dizholimi maafkanlah.

coba cermati..

Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengabarkan percakapan saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam di dalam Al-Quran yang Mulia

‏﴿٧٨﴾ قَالُوا۟ يٓأَيُّهَا ٱلْعَزِيزُ إِنَّ لَهُۥٓ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُۥٓ ۖ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Mereka berkata: “Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik”.(Yusuf 12:78)

Cermati di kata شيخا كبيرا (syaikhan kabiiran),  

ketika saudara2 nabi Yusuf berkata membujuk Nabi yusuf, dan mereka tidak ingat, tidak sadar kalau itu adalah Nabi Yusuf

“Mereka berkata: “duhai yang mulia, dia itu (benyamin) ayahnya sudah syaikhan kabiir” 

dalam bahasa arab “syaikhan kabiir” bisa berarti orang yang sudah sangat tua, rambut penuh uban, dan punggung sudah melemah,

Kalau bagi perempuan jika sudah syaikhan kabiir maka sudah hilang hasrat seksualnya, sdh amat sulit melahirkan lagi, karena rahimnya kurang mendukung karena usia yang tua.

Sama seperti dalam kisah 2 gadis kampung madyan berkata kepada Nabi Musa ‘alayhissalam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman menceritakan kisahnya:

قَالَتَا لَا نَسْقِى حَتَّىٰ يُصْدِرَ ٱلرِّعَآءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah syaikhan kabiiran (lanjut usianya)”. (Al Qashash 28:23)

Sama juga ketika istri Nabi ibrahim berkata mendengar kabar gembira dari malaikat, bahwa mereka akan dikaruniai anak yakni akan lahir Nabi ishak, dan nanti dari Nabi ishak akan lahir Nabi Ya’qub, Allah berfirman:

‏﴿٧٢﴾ قَالَتْ يٰوَيْلَتَىٰٓ ءَأَلِدُ وَأَنَا۠ عَجُوزٌ وَهٰذَا بَعْلِى شَيْخًا ۖ إِنَّ هٰذَا لَشَىْءٌ عَجِيبٌ

Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun (Ibrahim) dalam keadaan “syaikhan” (yang sudah tua pula)?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh”. (Huud 11:72)

Perhatikan… 

ketika nabi yusuf masih belia dibuang oleh saudaranya, dan bapaknya (Nabi Ya’qub) yang awalnya masih bugar hingga menjadi “syaikhan kabiir” di kisah ini.

Bayangkan entah Berapa puluh tahun semenjak kejadian itu terjadi, ketika nabi yusuf dibuang, beliau terpisah dengan anaknya yang tercinta? 

Pastinya sudah sangat lamaaa sekali, sebab ayah yusuf sudah menjadi syaikhan kabiiran (lanjut usia)

Di sinilah pelajarannya:
kalau orang yang menzholimi itu ingatan mereka mudah melupakan sementara orang yang dizholimi itu ingatan mereka akan tetap awet dalam waktu yang sangat panjang, meskipun mereka memaafkan, tapi memaafkan belum tentu melupakan

Lihat saudara-saudara Nabi yusuf, sudah lupa kalau pembesar mesir yang mereka ajak bicara itu adalah Nabi Yusuf yang pernah mereka buang, mereka sudah lupa,

dan coba perhatikan Nabi Yusuf, lihat bagaimana ingatanya kepada saudara-saudaranya, malah masing awet ingatannya kepada saudaranya yang menzholiminya.

Astagfirullah, saudaraku Hati-hati terhadap kezholiman, jangan pandang enteng, sekecil apapun, menzholimi orang lain besar sekali akibatnya, orang yang dizholimi walaupun mungkin tidak nampak, mereka tetap akan ingat kezholiman yang menimpa mereka walaupun dalam waktu yang sangat panjang, mungkin hingga hari kiamat, walaupun mereka memaafkan, belum lagi jika mereka tidak memaafkan kemudian berdoa kepada Allah, maka doanya tembus, 

Walaupun yang menzholiminya sudah tidak ingat lagi.

Pelajaran kedua:

Coba lihat Nabi yusuf sekalipun dizholimi, dipisahkan sangat lama dengan ayahnya, ketika dizholimi bagaimana sikapnya?, perhatikan ketika saudaranya berkata dalam keadaan tidak sadar bahwa itu adalah nabi yusuf:

إنا نراك من المحسنين

“Sungguh kami melihat engkau adalah termasuk orang-orang yang berbuat baik”

Subhanallah, ditegaskan dengan إنّ (sungguh).

Orang yang beriman jika dizholimi sekalipun mereka ingat dizholimi, tapi mereka mudah sekali memaafkan kemudian mengabaikan, bahkan lebih dari itu, malahan mereka berbuat baik kepada orang yg menzholimi,

Tidak larut dalam dendam, stres, hidup mereka ringan sekali, subhanallah.

Kondisi orang beriman tetaplah tidak berubah, selalu berbuat baik, walaupun cuaca kehidupan berubah, ketika dizholimi kezholiman itu tidak mempengaruhi mereka,

Kemudian Lihatlah Nabi yusuf ketika dipenjara, apa komentar orang di sekitarnya

Lihat di ayat 

إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلْمُحْسِنِين

 sesungguhnya kami memandang kamu (wahai yusuf) termasuk orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf 12:36)

Dan lihat Ketika Nabi Yusuf sudah menjadi pembesar mesir, apa penilaian orang kepadanya, dan bahkan apa penilaian orang yg telah menzholiminya, perhatikan ayat:

قَالُوا۟ يٓأَيُّهَا ٱلْعَزِيزُ إِنَّ لَهُۥٓ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُۥٓ ۖ إِنَّا نَرَىٰكَ مِنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Mereka berkata: “Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik”.(Yusuf 12:78)

Allahu a’lam

=====================

Eits jangan lupa tinggalkan jejak ya..

Leave a Comment

*

code